Nov 7, 2009

Entri 16:Bahagia

Gadis itu berambut kerinting berkulit cerah, terbongkok-bongkok mengukur bendang.Lintah dan pacat sudah menjadi lumrah.

Bajunya basah penuh keringat, dia mengelap dahinya dengan belakang tangannya. Selalunya dia tidak bersendirian , dia selalu mengerjakan bendang bersama ayahnya.Tapi beberapa hari yang lalu, ayahnya dipatuk ular, di bendang inilah dia menyaksikan ayahnya jatuh.Di bendang inilah badannya yang kecil mengendong ayahnya pulang ke rumah untuk bantuan.

Lagu Ahmad Jais kedengaran sayup-sayup dari radio yang disangkut di tepi bendang.Dia berlari-lari anak mahu mendengar lagu kegemarannya.Dikuatkan sedikit bunyi radio tersebut.

Dia dari keluarga yang susah.Pagi-pagi dia bangun, mengangkut air dari perigi untuk keperluan dapur.Kemudian mengerjakan bendang, ketika matahari makin meninggi dia akan bergegas untuk ke sekolah.Selang beberapa hari dia akan mencari kayu api bersama kakaknya.

Dia merenung ke langit, ahh..matahari makin meninggi, dia harus cepat-cepat takut lambat ke sekolah.Kekadang ada dia terfikir, apakah nasibnya di masa hadapan.Siapa yang tahu? Dia cuma berusaha...yang menentukan adalah Tuhan.

No comments:

Post a Comment